Salah satunya, lihatlah pada firman Allah dalam Al-Qur’anul Karim ini,
”... ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun."
(Luqman [31]: 14b)
Sedangkan melalui beberapa hadits, Rasulullah juga sangat mengistimewakan keberadaan seorang ibu.
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata,
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?”
Nabi menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”
Nabi menjawab lagi, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”
Nabi tetap menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?”
Nabi lalu menjawab, “Ayahmu.”
(HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi Muhammad saw. lalu berkata,
“Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu”.
Beliau berkata, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?”.
Ia menjawab: “Ya, masih”.
Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya”.
(Diriwayatkan oleh An-Nasa`i, jilid 2, hlm. 54, dan Ath-Thabrani jilid 1, hlm. 225, no. 2. Sanad Hasan insyaAllah. Dan dishahihkan oleh al-Hakim, jilid 4, hlm. 151, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan juga oleh al-Mundziri, jilid 3, hlm. 214)
Rasulullah saw. bersabda:
“Sesunguhnya Allah swt. telah berwasiat kepada kalian tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ayah kalian, kemudian berwasiat tentang kerabat dari yang terdekat.”
(Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad, serta Ibnu Majah, Al Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Miqdam bin Ma’di Kariba)
--***--
Sumber: Al-Qur'an dan Kitab Kumpulan Hadits.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar