”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari..."
(Ar-Rum [30]: 23a)
MIMPI PARA NABI
Sebelum menjelaskan ”Apakah itu Mimpi”, baiklah qt melihat dahulu, mimpi yang dialami para Nabi.
Didalam Al-Qur’an Al Karim, Allah berfirman tentang mimpi para Nabi, antara lain:
1. Nabi Ibrahim as.
2. Nabi Yusuf as.
3. Nabi Muhammad saw.
Sebelum menjelaskan ”Apakah itu Mimpi”, baiklah qt melihat dahulu, mimpi yang dialami para Nabi.
Didalam Al-Qur’an Al Karim, Allah berfirman tentang mimpi para Nabi, antara lain:
1. Nabi Ibrahim as.
”Maka tatkala anak itu sampai (cukup) umur, Ibrahim berkata: ’Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’
Ia menjawab, ’Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.....
Dan Kami panggillah dia: ’Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik’.”
(Ash-Shaaffaat [37]: 102-105)
2. Nabi Yusuf as.
“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku’.
Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.
Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta`bir mimpi-mimpi…’.”
(Yusuf [12]: 4-6)
3. Nabi Muhammad saw.
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…”
(Al-Fath [48]: 27)
-*-
APAKAH ITU MIMPI
“Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia…”
(Al-‘Israa [17]: 60)
Rasulullah bersabda,
"Mimpi itu ada tiga macam;
1. Berita gembira dari Allah (mimpi baik).
2. Mimpi dari diri sendiri/ungkapan jiwa (mimpi tak bermakna)
3. Gangguan syaithan (mimpi buruk)".
(HR. Ahmad)
Imam Bukhari menjelaskan pengertian tentang sabda Rasulullah diatas, sebagai berikut;
1. MIMPI BAIK (ar-Ru'yah ash-Shalihah), alias kabar gembira dari Allah (al-Busyra Minallah).
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,
"Tidaklah tinggal dari tanda-tanda kenabian kecuali berita-berita gembira", para shahabat bertanya, "Apa itu berita-berita gembira?"
Beliau bersabda, "Mimpi yang baik".
(HR. Bukhari)
Selain itu didalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda,
"Mimpi (yang baik) dari seorang mu'min adalah salah satu bagian dari 46 bagian tanda kenabian”.
(HR. Shahih Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)
Sesungguhnya mimpi ini datangnya dari Allah Azza wa Jalla. Dan dianjurkan bagi qt untuk menceritakan mimpi yang baik itu kepada orang lain sebagai bentuk ‘tahadduts bi al-ni`mah’.
Dari Abu Said al-Khudri ra., Rasulullah bersabda,
Dari Abu Said al-Khudri ra., Rasulullah bersabda,
“Jika seseorang di antara kalian bermimpi dengan mimpi yang disukainya (baik), sesungguhnya ia datangnya dari Allah Ta’ala. Maka bertahmidlah (ucapkan ‘Alhamdulillah’) dan kabarkanlah mimpi baik tersebut (kepada orang lain)".
(HR. Shahih Bukhari dan Muslim)
2. MIMPI BISIKAN JIWA (Hadits Min an-Nafs)
Mimpi ini, merupakan permainan Syaithan. Dimana awalnya muncul dari diri sendiri. Saat memikirkan sesuatu atau terlalu sibuk akan suatu urusan sehingga hal tersebut muncul dalam mimpinya. Biasanya berbentuk mengigau dan mimpi yang tidak jelas.
Diriwayatkan, bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw.,
Mimpi ini, merupakan permainan Syaithan. Dimana awalnya muncul dari diri sendiri. Saat memikirkan sesuatu atau terlalu sibuk akan suatu urusan sehingga hal tersebut muncul dalam mimpinya. Biasanya berbentuk mengigau dan mimpi yang tidak jelas.
Diriwayatkan, bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah saw.,
"Sesungguhnya saya telah bermimpi (melihat) kepalaku telah terputus (dari badanku) lalu saya mengikutinya dari belakang. Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu ceritakan (kepada orang lain) permainan syaithan terhadapmu di dalam mimpi(mu)".
(HR. Muslim)
Adapun mimpi ini datangnya dari Syaithan, yang menampakkan hal-hal buruk, yang membuat seorang manusia menjadi terkejut, sedih dan sakit.
Untuk mimpi jenis ini, Rasulullah bersabda,
a. "Barangsiapa yang bermimpi buruk, maka janganlah diceritakan kepada seorang pun, hendaklah ia bangun dan melaksanakan shalat (sunnat)."
(HR. Shahih Bukhari)
b. "Dan apabila ia melihat (dalam mimpinya) sesuatu yang ia benci, maka janganlah ia menceritakannya kepada seorangpun dan hendaknya ia bangun kemudian shalat".
(HR. Ahmad)
c. "… impian buruk dan tidak disukai, maka impian tadi adalah dari syaithan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya, yakni membaca ta'awwudz dan janganlah menyebut-nyebutkannya kepada orang lain, sebab sesungguhnya impian sedemikian itu tidak akan membahayakan dirinya."
(Muttafaq 'Alaih)
Dari ketiga sabda Rasulullah diatas, diharapkan ta’wil mimpi itu jangan menjadi kenyataan, kecuali Allah menghendaki.
Sayangnya, diantara qt justru berusaha untuk mencari tahu ta’wil (arti) dari mimpi buruk tersebut. Biasanya melalui buku tafsir mimpi, atau bercerita dan bertanya kepada orang lain.
-*-
BAGAIMANA MENGHADAPI MIMPI
1. BILA MENGINGINKAN MIMPI BARKAH
a. Berupaya Jujur
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,
”... Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara.”
(HR. Shahih Bukhari)
Rasulullah bersabda,
”Barangsiapa menginginkan mimpi yang benar hendaknya menjaga kejujuran, memakan makanan yang halal, tha’at akan perintah & larangan Allah”.
(Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah bersabda,
”Orang yang bermimpi baik itu, adalah mereka yang menjaga kesuciannya; berwudhu, shalat sunnah dan membaca do’a tidur”.
(Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah bersabda,
”Kebenaran mimpi tidak ternodai oleh peristiwa junub, haid dan nifas”.
(Muttafaq ‘Alaih)
“Mimpi yang paling afdhal saat terjadinya adalah dikala sahur. Karena pada saat itu rahmat & ampunan Allah turun, saat banyak orang tengah pulas.”
(Ibnu Qayyim al-Jauziyah)
Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya diantara kebohongan yang paling besar adalah (diantaranya) ...mengaku-ngaku pernah melihat (sesuatu dalam mimpinya) yang sebenarnya ia tidak melihatnya..".
(HR. Bukhari)
-*-
2. BILA MENDAPAT MIMPI YANG BAIK
a. Mengucapkan Tahmid
Dari Abu Said al-Khudri ra., Rasulullah saw. bersabda,
“Jika seseorang di antara kalian bermimpi dengan mimpi yang disukainya (baik), sesungguhnya ia datangnya dari Allah Ta’ala. Maka bertahmidlah (ucapkan ’Alhamdulillah’)...”.
(HR. Shahih Bukhari dan Muslim)
b. Menceritakan kepada Orang Lain
Dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda,
Dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda,
“Jika seseorang di antara kalian bermimpi dengan mimpi yang disukainya (baik), sesungguhnya ia datangnya dari Allah Ta’ala. Maka bertahmidlah (ucapkan ’Alhamdulillah’) dan kabarkanlah mimpi baik tersebut (kepada orang lain)".
(HR. Shahih Bukhari dan Muslim)
-*-3. BILA MENDAPAT MIMPI YANG BURUK
a. Shalat Sunnah
Rasulullah bersabda,
"Barangsiapa yang bermimpi buruk, maka janganlah diceritakan kepada seorang pun, hendaklah ia bangun dan melaksanakan shalat (sunnat)."
(HR. Shahih Bukhari)
Rasulullah bersabda,
”... impian buruk dan tidak disukai, maka impian tadi adalah dari syaithan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya, yakni membaca ta'awwudz...”.
(Muttafaq 'Alaih)
Rasulullah bersabda,
”... impian buruk dan tidak disukai, maka impian tadi adalah dari syaithan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya, yakni membaca ta'awwudz dan janganlah menyebut-nyebutkannya kepada orang lain, ..."
(Muttafaq 'Alaih)
"Menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair ra., menceritakan kepada kami Al-Laits ra., dari `Ubaidillah bin Abi Ja'far ra., mengabarkan kepadaku Abu Salamah ra., dari Qatadah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,
’Mimpi yang baik datangnya dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk datangnya dari Syaitan, barangsiapa yang mimpi buruk maka hendaklah meludah ke sebelah kirinya 3 kali, ...’.”
(HR. Shahih Bukhari)
-*-4. TA’WIL (MENGARTIKAN) MIMPI
Pasti diantara qt ingin mendapatkan mimpi yang baik, sebagaimana Rasulullah juga menyatakan dalam sabdanya,
”Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama”.
(Shahih Muslim No.4200)
Dan salah satu mimpi yang baik adalah bertemu dengan Rasulullah, sebagaimana sabda Rasulullah,
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya syaithan tidak dapat menjelma sepertiku.
(HR. Shahih Muslim No.4206)
Nah, dibawah ini gambaran bagaimana menta’wil mimpi berdasar Al-Qur’an dan Al-Hadits.
1. AL-QUR’AN
Nabi Yusuf as.
”Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya : ‘Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur’. Dan yang lainnya berkata, ’Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung’. ’Berikanlah kepada kami ta`birnya, sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena`birkan mimpi)’.
Yusuf berkata, ’Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu’...”
(Yusuf [12]: 36-38)
2. AL-HADITS
Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah berkisah,
“Sesungguhnya seorang lelaki datang Ia bercerita bahwa seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ’Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat segumpal awan yang meneteskan minyak samin dan madu. Kemudian aku melihat orang-orang menengadahkan tangannya pada tetesan tersebut mereka ada yang mendapat banyak dan ada pula yang hanya mendapat sedikit. Lalu aku melihat seutas tali yang terentang dari langit sampai ke bumi kemudian melihat engkau memegang tali tersebut lalu engkau naik ke atas. Kemudian ada seorang lelaki memegang tali tersebut setelahmu, dan naik ke atas. Ada juga seorang lelaki lain memegang tali tersebut namun terputus, kemudian setelah disambung lagi, lelaki itu naik ke atas’.
Abu Bakar berkata, ’Wahai Rasulullah! Untuk engkau aku mengorbankan bapakku dan demi Allah, izinkan aku untuk menta’wil mimpi tersebut’.
Rasulullah bersabda, ’Ta’wilkanlah!’.
Abu Bakar lalu berkata, ’Segumpal awan tersebut berarti awan Islam. Tetesan yang berupa samin dan madu adalah Alquran dari segi manis dan halusnya. Orang-orang yang menengadahkan tangannya pada tetesan tersebut berarti orang-orang yang banyak menghayati isi Alquran dan yang hanya sedikit penghayatannya terhadap Alquran. Adapun seutas tali yang tersambung dari langit sampai ke bumi adalah kebenaran yang engkau bawa. Engkau memegang tali tersebut lantas Allah mengangkat engkau dengan tali itu. Kemudian setelah engkau, ada seorang lelaki yang memegang tali tersebut dan naik ke atas dengan tali itu. Ada seorang lelaki lain yang memegang tali tersebut dan naik ke atas dengan tali itu. Dan ada seorang lelaki yang lain lagi memegang tali tersebut, namun terputus dan setelah disambung lagi baru dia naik ke atas dengan tali itu. Ceritakan kepadaku, wahai Rasulullah! Menurut engkau, apakah ta’wilku itu tepat atau tidak?’.
Rasulullah bersabda, ’Sebagian yang kamu jelaskan itu ada yang tepat dan sebagian ada yang salah’...”
(HR. Imam Muslim (7/55-56), Abu Dawud (2368 dan 4632), At-Tirmidzi (2/47), Ad-Darimi (2/128), Ibnu Majah (3918), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushanif (2/190/2), dan Imam Ahmad (1/236))
--***--
SUMBER PUSTAKA
Maraji’, Syarh Riyadhus Shalihin jilid 7 hal. 393-402, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar