SALAM

السلام عليكم ورحمتلاهي وبركاته ومغفراتهو وريذوانهء

Senin, 15 Juli 2013

TRADISI JADI KEYAQINAN II

(Salah Kaprah justru menjadi Pembenaran)


LAMBANG BULAN SABIT DAN BINTANG

Hampir disetiap bangunan masjid, didunia ini, lambang Bulan Sabit dan Bintang, pasti menghiasi ujung kubah masjid. Mungkin diantara qt menganggap hal ini telah menjadi satu bagian dalam ajaran agama Islam.







Kembali disini terjadi salah pemahaman, dimana 


penggunaan lambang ini tidak pernah diperintahkan Allah SWT didalam Al-Qur’an atau disabdakan Rasulullah saw., maupun dipakai para shahabat pada masa mula-mula Islam tersebar.

Pada masa zaman Rasulullah saw. dan para khalifah setelahnya, tidak dikenal adanya sebuah lambang untuk agama Islam. Beliau hanya menggunakan panji-panji yang sangat sederhana berupa lambang-lambang biasa pada bendera atau umbul-umbul, dengan warna; hijau, putih atau hitam; disertai tulisan Arab, sebagai penguat iman dan penyemangat bagi para pejuang Muhajirin, saat peperangan menghadapi para Kafirin.

Adapun pemakaian lambang bulan sabit dan bintang, dimasyurkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih yang lebih dikenal dengan Sultan Mahmud II (1444-1445 dan 1451-1481) dari Bani Utsmaniyah yang memerintah Kesultanan Turki Utsmaniyah atau lebih dikenal dengan sebutan Kekaisaran Turki Ottoman, setelah berhasil menaklukan Kota Konstantinopel (Istambul sekarang) pada tanggal 29 Mei 1453, dari kekuasaan Kekaisaran Romawi.

Penggunaan lambang bulan sabit dan bintang sebenarnya adalah lambang Kekaisaran Turki Ottoman, seperti burung garuda dan perisai Pancasila yang tergantung pada leher burung, yang qt sebut Garuda Pancasila, yang merupakan lambang Negara Indonesia.

Arti dari lambang bulan sabit dan bintang sendiri adalah,
1. Bulan Sabit adalah: 3 benua yang berada dalam kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah. 


  • Ujung bulan sabit yang atas, adalah benua Asia, 
  • Ujung bulan sabit yang bawah adalah benua Afrika, 
  • Sedangkan lengkungan tengah bulan sabit adalah benua Eropa. 

2. Bintang adalah: Kesultanan Turki Utsmaniyah dengan ibukotanya Istambul yang artinya Kota Islam.
Istambul sendiri dahulunya adalah Byzantyum (pada masa Yunani Kuno), lalu berubah menjadi Konstantinopel pada masa pendudukan Kekaisaran Romawi.

Pada masa itu, kemasyuran dan ekspansi Bani Utsmaniyah sebagai penguasa Kekaisaran Turki Ottoman yang meliputi 3 benua, yaitu Asia, Eropa dan Afrika, membuat lambang kesultanan ini menjadi terkenal.
Lambang ini menghiasi bendera dan umbul-umbul iring-iringan pasukan Kesultanan Ottoman, acap kali melakukan kunjungan kenegaraan atau dalam melakukan ekspansi.
Sejujurnya memang harus qt akui, pada masa Kesultanan Turki Utsmaniyah inilah, Islam kembali berjaya.

Ratusan tahun lamanya (1299–1923), Kekhalifahan Bani Utsmaniyah mengayomi kaum muslimin di Asia, Eropa dan Afrika. Hal ini turut mempengaruhi negeri-negeri Islam lainnya. Mereka mulai memandang Kesultanan Turki Utsmaniyah sebagai kiblatnya mode kehidupan saat itu. Hal ini dapat dilihat pada bentuk masjid-masjid yang dipasangi kubah dan menara. Perhatian ini juga tidak luput pada lambang bulan sabit dan bintang, yang kemudian menjadi lambang populer umat Muslim.

Apalagi setelah lambang kesultanan ini kemudian diresmikan menjadi lambang Negara Turki Moderen oleh Mustafa Kemal Pasha atau yang lebih dikenal sebagai Mustafa Kemal Atatürk, presiden pertama negara ini, yang mengawali tugasnya pada tanggal 29 Oktober 1923. Dimana lambang ini menyertai bendera negara Turki.

Ironi-nya, dikarenakan lambang ini datangnya dari sebuah kerajaan Islam, maka banyak orang mengindetikkannya sebagai lambang dalam agama Islam.
Jadilah lambang bulan sabit dan bintang menjadi ’trade mark’ atau lambang legasi umat Muslim.


Jelaslah kini bahwa.



LAMBANG BULAN SABIT DAN BINTANG BUKAN LAMBANG AGAMA ISLAM, MELAINKAN LAMBANG SEBUAH NEGARA (Turki).

--***--

Disadur dari berbagai sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar