SALAM

السلام عليكم ورحمتلاهي وبركاته ومغفراتهو وريذوانهء

Rabu, 02 Oktober 2013

TAUBAT DAN SYAFA’AT PENAWAR ADZAB NERAKA

Rasulullah bersabda,

”Ketika Allah Azza wa Jalla menetapkan penciptaan mahlukNya, Dia menulis didalam Kitab-Nya, yang berada disisi-Nya, diatas ’Arasy.
’Sesungguhnya Rahmat-Ku mengalahkan Kemurkaan-Ku’.”
(HSR Imam al-Bukhari No. 2955, dari Abu Hurairah ra.)






Dari hadits diatas, nyatalah kepada qt, bahwa Allah tidak begitu saja menghukum hamba-Nya kedalam adzab neraka. Ia memberikan 2 hal untuk dapat menghindarinya, yaitu:
  1. Bertaubat dan Memperbaiki Diri.
  2. Syafa’at dari Allah, Malaikat, Nabi Muhammad saw. dan orang-orang alim yang mengasihi qt.
-*-


1. BERTAUBAT & MEMPERBAIKI DIRI



”Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(An-Nisaa` [4]: 17)


Setiap insan ciptaan Allah, diberi kesempatan untuk bertaubat atas segala perbuatan keji, melanggar perintah dan larangan-Nya. 


AL QUR'AN
a. ”Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(An-Nahl [16]: 119)
b. ”... kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(Al-Baqarah [2]: 160)
c. ”Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”
(An-Nisaa` [4]: 146)
d. ”... bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al-An`aam [6]: 54)

AL-HADITS
a. Dari Abu Musa ra., Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat jahat mau bertaubat di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat jahat mau bertaubat di malam hari, hingga matahari terbit dari barat (Kiamat).”
(HR. Muslim)
b. Rasulullah bersabda,
”... Allah menjawab, ’Demi Kemuliaan-Ku dan Keagungan-Ku, Aku akan ampuni mereka selama mereka meminta ampun pada-Ku’." 
(HR. Imam Ahmad)
c. Dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab ra., Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla itu menerima taubatnya seseorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (ketika akan meninggal dunia).”
(HSR. Imam Termidzi, dari Abu Abdur Rahman ra.)

-*-

TAUBAT MU’MIN
Khusus bagi kaum Mu’min, Allah nyata-nyata berfirman,
a. ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan TAUBATAN NASUHAA (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ...”
(At-Tahrim [66]:
b. ”... Allah menerima taubat orang-orang Mu`min lelaki dan wanita. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al-Ahzab [33]: 73)
-*-

TAUBAT KAUM KAFIR
Begitu juga bagi kaum Musyrikin (Kafir), Allah berfirman; 
a. ”... Jika mereka (orang-orang musyrikin) bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka ...”
(At-Taubah [9]: 5b)
b. ”Jika mereka (orang-orang musyrikin) bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”
(At-Taubah [9]: 11)
-*-

MEREKA YANG TIDAK DITERIMA TAUBATNYA
Namun, ada juga mereka yang walau meminta taubat kepada Allah, Allah tidak (menangguhkan) menerima taubat mereka.

Sebagaimana firman Allah,
”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila DATANG AJAL kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : ’Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.
Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam keKAFIRan. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”

(An-Nisaa` [4]: 18)
-*-


2. PEMBERIAN SYAFA’AT

Rasulullah saw. bersabda,



”... ia (Syafa’at) di berikan terhadap orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang banyak kesalahan. 
(HR. Ibnu Majah, no. 4301)

Ibnu Abi Hatim Ar-Razi rhm. berkata, 
“Syafaat adalah benar (adanya). Dan bahwa sebagian ahli tauhid keluar dari neraka lantaran adanya syafa’at, adalah benar.” 
(Ushulus Sunnah Wa I’tiqad Din oleh Ibnu Abi Hatim masalah ke-13)


Selain Taubat, Syafa’at juga merupakan penawar dari adzab neraka. Syafa’at itu sendiri berarti PERTOLONGAN.

Siapa sajakah yang dapat memberikan syafa’at kepada kaum Mu’min?
Jawabannya adalah:
a. Allah Azza wa Jalla.
b. Malaikat.
c. Nabi Muhammad saw.
d. Syuhada’.
e. Alim Ulama.
f. Mu’min.
g. Anak-anak yang wafat sebelum baligh.
h. Ibadah.


AL-HADITS
Dari Utsman bin Affan ra., Rasulullah bersabda,



“Yang akan mensyafa’ati kelak di hari kiamat adalah;
- Para Nabi, 
- Para Ulama, 
- Para Syuhada”.
(HR. Imam al-Baihaqi, dari Imam Ibnu Majjah ra.) 


ATSAR ULAMA

a. Dari Ibnu Mas’ud ra. berkata,
"Tidak ada seorang pun yang mensyafa’ati lebih banyak dari yang disyafa’ati oleh;
- Nabi kalian,
- Malaikat,
- Ambiya’,
- Para ash-Shiddiqun,
- Para Syhuhada”.

(HR. Imam al-Bahaqi)
b. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rhm. berkata,
”... Dan;
- Para nabi,
- Orang-orang yang beriman,
- Malaikat
akan memberikan syafa’at (dengan seizin Allah).”



a. ALLAH AZZA WA JALLA
Pemberi Syafa’at yang terutama adalah Allah Azza wa Jalla 


AL QUR'AN
1. "Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya …"
(Az-Zumar [39]: 44)
2. “Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya.” 
(Yunus [10]: 3)
3. “…Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah…” 
(Al-Anbiyaa’ [21]: 28)

AL-HADITS
Dari Jabir bin Abdillah ra., Rasulullah saw. bersabda,


“Sesungguhnya Allah mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan syafa’at".
(HR. Bukhari dalam Kitab Ar Riqaq Bab Shifatil Jannah wan Naar no. 6558 Fathul Bari XI/416 dan Muslim Kitab Al Iman Bab Adna Ahlil Jannah Manzilatan Fiha III/49 no. 470 Syarh Nawawi, dari Hammad bin Zaid ra., dari Amr bin Dinar ra.)


b. MALAIKAT
Pemberi Syafa’at berikut adalah para Malaikat


AL QUR'AN

”(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan),
’Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala’.”
(Al-Mu`min [40]: 7)

AL-HADITS
Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda,


”… Tidaklah seseorang memberikan syafa’at lebih banyak dari pemberian syafa’at; ..., Para Malaikat, ...”.
(HR. Imam Baihaqi)



ATSAR ULAMA
Abu Hasan Al-Asyari rhm. berkata,



“Mereka (malaikat) itu hanya memberi syafa’at kepada orang-orang yang diridhai Allah.”
(Al-Ibanah An-Ushul Ad-Diyanah oleh Abu Hasan Al-Asyari)




c. NABI MUHAMMAD SAW.
Pemberi Syafa’at selanjutnya adalah penghulu para nabi, dialah Nabi Muhammad saw.

AL QUR'AN

“… Dan sesungguhnya jika setelah berbuat kesalahan dan mendzalimi diri sendiri, mereka lantas mendatangimu dan memohon ampunan Allah, dan Rasul pun memintakan ampunan untuk mereka, pasti mereka akan menemukan Allah sebagai Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
(An-Nisaa’ [4]: 64)



AL-HADITS
1. “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku; ... 4. Aku diberikan (hak) syafa’at, ...”.
(HR. Bukhari)
2. Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw. bersabda,
“Aku adalah manusia pertama yang memberi syafa’at di syurga, dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya".
(HR. Muslim)
3. Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah bersabda,
"Maka aku mengeluarkan mereka (orang-orang beriman yang masuk neraka) dari neraka, sehingga tidak tersisa di dalam neraka, kecuali orang yang ditahan oleh Al Qur’an, yaitu orang yang pasti kekal (di dalam neraka)". 
(HR. Bukhari dan Muslim)

ATSAR ULAMA
1. Ibnu Mas’ud ra. berkata,
”Nabi Muhammad saw. adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at”.
(HR. Imam al-Bukhari, dari Abu az-Za’raa’ ra.)
2. Imam Asy-Syafi’ii rhm. berkata,
“... Beliau (Nabi Muhammad saw.) ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat.” 
(Ar-Risalah oleh Imam Asy-Syafi’ii 12-13, Manhaj Imam Asy-Syafi’ii fi Itsbat Al-Aqidah oleh Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-’Aqil, 1/291)
3. Abu ‘Utsman Isma’il bin Abdur-rahman Ash-Shabuni rhm. (ahli hadits dari Khurasan, 373-449 H) berkata,
“Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafa’at Rasulullah bagi pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid ...”
(‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hal. 76)


d. SYUHADA’
Pemberi Syafa’at selanjutnya adalah para Syuhada’, atau orang yang mati di jalan Allah, alias berjihad.

AL-HADITS
1. Dari Utsman bin Affan ra., Rasulullah bersabda,
“Yang akan mensyafa’ati kelak di hari kiamat adalah; ..., Para Syuhada”.
(HR. Imam al-Baihaqi, dari Imam Ibnu Majjah ra.)
2. Dari Abi Darda’ ra., Rasulullah bersabda,
“Orang-orang yang mati syahid akan bisa mensyafa’ati tujuh puluh orang dari keluarganya”.
(HR. Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Hiban)

ATSAR ULAMA
Ibnu Taimiyah rhm. berkata,



“... Dia mengampuni (dosa-dosa) mereka dengan perantaraan du’a dari orang yang Allah izinkan untuk memberi syafa’at, ...”
(Kitab Majmuu’ul Fataawa [7/78])


e. ALIM ULAMA
Pemberi Syafa’at yang kemudian adalah para Alim Ulama, atau Guru-guru agama.

AL QUR'AN
1. “…, kecuali (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” 
(Az-Zukhruf [43]: 86)
2. “… memberikan syafa’at melainkan untuk orang yang Allah ridhai, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” 
(Al-Anbiya`[21]: 28)

AL-HADITS
1. Dari Utsman bin Affan ra., Rasulullah bersabda,
“Yang akan mensyafa’ati kelak di hari kiamat adalah; …, Para Ulama, ...”.
(HR. Imam al-Baihaqi, dari Imam Ibnu Majjah ra.)
2. Dari Abi Umamah ra., Rasulullah bersabda,
“… dan dikatakan kepada orang Alim, ‘Berhentilah dulu sehingga engkau mensyafa’ati para manusia’.”
(Syaikh Ibnu Abi Ashim dan Imam al-Ashfahani)

ATSAR ULAMA
1. Ibnu Mas’ud ra. berkata,
"Tidak ada seorang pun yang mensyafaati lebih banyak dari yang disyafa'ati oleh; ..., Para ash-Shiddiqun, ...”.
(HR. Imam al-Bahaqi)
2. Ibnu Umar ra. berkata,
“Syafa’atilah murid-muridmu walaupun jumlah mereka sampai dengan jumlahnya bintang-bintang di langit”.
(HR. Imam ad-Dailami)


f. MU’MIN
Pemberi Syafa’at berikut adalah kaum Mu’min alias sesama qt.
AL QUR'AN

“Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” 
(Thaahaa [20]: 109)


AL-HADITS

a. Rasulullah bersabda,
“… Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohon permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam neraka ...”.
(HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari [XIII/421], hadits no. 7439, Kitab at Tauhid, Bab 24, dengan lafadz berbeda, dari Abu Sa’id al Khudri ra.)
b. Rasulullah bersabda,
”Dan oleh karena permohonan kaum Mu’min, untuk saudara-saudaranya seiman yang berada di neraka,
Allah berfirman, ‘Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat;
- satu dinar,
- setengah dinar,
- sebiji zahrah,
maka keluarkanlah (dari neraka)!’.”

(HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha [III/32], hadits no. 453, dari Abu Sa’id al Khudri ra.)


g. ANAK-ANAK YANG WAFAT SEBELUM BALIGH
Pemberi Syafa’at selanjutnya adalah Anak-anak yang wafat sebelum baligh.

AL-HADITS
1. Dari Syurahbil bin Syua’ah ra., Rasulullah bersabda,
“Allah SWT berfirman pada hari kiamat kepada anak-anak, ‘Masuklah kalian ke dalam syurga!’
Anak-anak itu berkata, ‘Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk.’ Lalu mereka mendekati pintu syurga, tapi tidak mau masuk ke dalamnya.
Allah berfirman lagi, ’Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian kedalam syurga!’
Mereka menjawab, ’Tetapi (bagaimana) orang tua kami?’
Allah pun berfirman, ’Masuklah kalian ke dalam syurga bersama orang tua kalian’.”

(HQR. Imam Ahmad)
2. Dari Abdurrahman bin Auf ra., Rasulullah bersabda,
“Dua orang anak putri yang dididik secara baik, bisa menjadi penyelamat dari siksa api neraka".
(HR. Imam Ath-Thabrani)


h. IBADAH
Pemberi Syafa’at, tidak hanya melalui 7 bahasan diatas saja, ternyata melalui Ibadah yang khusyu’ bin ikhlas, syafa’at pun diperoleh.
Ibadah itu beragam tentunya, seperti:
1. Thaharah (Wudhu’, Janabat dan Tayamum).
2. Shalat (Ma’tubah/Fardhu dan Sunnah).
3. Shadaqah (Zakat dan Infaq).
4. Puasa (Fardhu dan Sunnah).
5. Du’a (Wirid, Dzikir dan Shalawat).
6. Tadarus Al-Qur’an (Mengaji, Mengkaji dan Menyaji)
7. Ibadah Lain.

Berikut landasan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menyatakan syafa’at tersebut:


1. THAHARAH (Wudhu’, Janabat dan Tayamum)
Dari Utsman bin Affan ra., Rasulullah bersabda, 


“Barang siapa yang berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kuku-kukunya.”
(HR. Muslim dalam Kitab ath-Thaharah)


2. SHALAT (Ma’tubah/Fardhu dan Sunnah)

“… dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain) …”
(Al-`Ankabuut [29]: 45)


3. SHADAQAH (Zakat dan Infaq )



"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (Shadaqah), … mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka." 
(Al-Baqarah [2]: 262) 


4. PUASA (Fardhu dan Sunnah)
Dari ’Utsman bin Abil ‘Ash ra., Rasulullah bersabda,



“Ash-Shaum adalah perisai (Syafa’at) dari An-Nar (api neraka), seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan”. 
(HR. An-Nasa`i, no. 2231., di shahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, dari Mutharrif ra.)


5. DU’A (Wirid, Dzikir dan Shalawat)
Rasulullah bersabda,



“Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari hatinya”.
(HR. Bukhari, no. 99)


6. TADARUS AL-QUR’AN (Mengaji, Mengkaji dan Menyaji)


“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan Al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).”
(HSR. Muslim, no. 804)


7. IBADAH LAIN-LAIN
Shabar, berperilaku halal, memelihara ukhuwah, menjaga lisan dan tawadhu’.


”Jadikanlah shabar dan shalat sebagai penolongmu ...”
(Al-Baqarah [2]: 45a)

--***--



SUMBER: Materi Pelajaran Padepokan Hikmah Ilham Taqwa - Insan Kamil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar